Tips Menjadi Student Ambassadors For ASEAN Project - Scholarship for Summer School Program



Ada satu kutipan terkenal dari Anita Desai mengenai traveling yang tidak pernah saya mengerti. Sebanyak apapun buku mengenai traveling yang saya baca, jawabannya tetap tidak pernah muncul. 

“Wherever you go becomes a part of you somehow” – Anita Desai

Bagaimana bisa menjadi bagian diri kita? Saya kira dengan banyak membaca buku traveling jawaban itu akan muncul dengan sendirinya. Sampai saya menyadari bahwa ada beberapa pertanyaan di dunia ini yang tidak pernah bisa kita temukan jawabannya melalui buku. Melainkan dengan meninggalkan zona nyaman. 

Benar saja.

Saya temukan jawabannya ketika saya terpilih menjadi Student Ambassadors for ASEAN Project 2017 dan terbang ke Phuket, Thailand. Untuk tahun ini, ada tiga orang dari Indonesia yang terpilih, yaitu Shindy Aswina (Akuntansi, BINUS), Shafira Meutia Sanusi (Manajemen Pemasaran Pariwisata, UPI Bandung), dan saya sendiri dari Hubungan Internasional, BINUS. Kabar baiknya, semua biaya perjalanan, makan hingga akomodasi selama pergi ke Phuket gratis. 


Bahkan biaya pendaftaran program ini juga gratis. 

Oh, biarkan saya ulang. G-r-a-t-i-s.

Dari teman dekat, sekedar kenal sampai orang yang tidak saya kenal menghubungi saya melalui media sosial menanyakan berbagai pertanyaan. Jadilah tulisan ini lahir untuk menjawab berbagai pertanyaan kepo berfaedah tersebut. Berbagai pertanyaan wajar sampai pertanyaan abnormal masuk ke Direct Message Akun Instagram.
 
"Nama program ini apa?" 

Pertanyaan yang keterlaluan.

“Tau dari mana program ini?”

Saya dapet wahyu melalui mimpi. 

Gak deng.

Rajin cari tau! 
Kita hidup di jaman yang mudah dapetin informasi. Menurut saya kebangetan kalau Google tidak dipergunakan sebaik mungkin karena bertaburan berbagai program scholarship di Google. 

Dari tahun kedua kuliah, saya sudah menjelajah ke berbagai website Universitas dalam dan luar negeri, follow berbagai akun mahasiswa berfaedah di Instagram sampai join berbagai grup di facebook. Bahkan saya join grup facebook “Promosi – Iklan Baris” yang isinya produk-produk diskonan hahahaha. 

Untuk program Student Ambassador for ASEAN Project 2017 ini saya dapat dari Grup IR Binus (Grup khusus mahasiswa Hubungan Internasional BINUS). Kamu bisa pantau dan kepo-in facebook IAC PSU Phuket atau website-nya untuk tau kapan program beasiswa serupa diadakan lagi.

Sebenarnya ada banyak program lain dari berbagai negara yang juga bisa membawa kamu pergi ke luar negeri secara gratis. Ini semua tergantung dari seberapa rajin dan inisiatif kamu dalam mencari informasi. Semakin rajin dan inisiatif, bisa dipastikan semakin banyak program-program beasiswa yang kamu ketahui. 

“Gimana sih caranya supaya terpilih?

Di dalam persyaratan program beasiswa singkat Student Ambassador for ASEAN Project 2017, kandidat diharuskan membuat video singkat berdurasi 2 menit. Dalam waktu sesingkat itu kamu harus memperkenalkan diri, dan memberikan argumen kenapa dari sekian kandidat harus kamu yang dipilih.

Mungkin terlihat sepele. 

Namun justru dari pertanyaan sepele itu, kreatifitas kamu di uji. Percayalah, kamu yang menganggap sepele akan menghasilkan jawaban yang sepele juga. Namun kamu yang menganggapnya sebagai pertanyaan yang serius, pasti akan memikirkannya matang-matang dan menghasilkan jawaban yang out of the box. Perhatikan juga baik-baik apa tema dari beasiswa singkat yang kamu apply dan sambungkan jawaban kamu dengan tema besar tersebut. 

Dari kegagalan sebelumnya, kebanyakan kandidat terlalu fokus membuat video dengan teknik sebagus dan se-profesional mungkin. Video dengan kualitas gambar dan teknik-teknik pembuatan video yang keren tapi lupa akan esensi membuat video tersebut, yaitu menjawab pertanyaan. 

Di hari terakhir di Phuket, kami para Student Ambassador masih tidak percaya jika kami yang terpilih. It’s like a dream to us. Kami ngobrol dengan panitia dari Prince of Songkla University tentang video yang kami kirimkan. Rata-rata kami membuat video yang informal, dengan kualitas suara yang bagus. Pastikan kamu kasih subtitle dalam bahasa inggris jika kualitas suara videonya buruk agar mereka tetap mengerti apa yang kamu bicarakan.

“Wah, gak punya kamera dan gak punya software edit video nih. Gak ngerti cara edit video juga. Gimana dong?”

Ada dua pilihan solusi yang bisa kamu coba. Pertama, gak usah daftar saja. Pilihan kedua, usaha.

Salah satu Student Ambassador terpilih dari Malaysia cerita ke saya bahwa dia membuat video hanya bermodalkan kamera handphone dan dia edit video tersebut melalui handphone juga. Yep, butuh berhari-hari dari rekam gambar, nyatuin, pilih backsound sampai cut gambar sebelum akhirnya jadi sebuah video. Saya sendiri hanya menggunakan Windows Movie Maker, sebuah software bawaan yang ada di hampir semua laptop pengguna Windows. Berbekal tutorial cara mengedit video dari Youtube, Voila! Jadilah video tersebut. 

“Pas apply, butuh referensi dari dosen gak sih?”

Dalam mengisi form program ini memang ada kolom reference dimana kita harus menuliskan nama lengkap, dan kontak dari orang yang merekomendasikan kita. Gak selalu harus dari dosen. Bisa dari pembimbing organisasi/komunitas sampai pembimbing di tempat magang/tempat kerja. Namun pastikan orang yang merekomendasikan kita tau tentang kualitas diri kita. 

Pastikan juga kamu masih aktif sebagai mahasiswa S-1 saat mendaftar program ini. Percuma semua persyaratan udah dilengkapi secara sempurna kalau kamu udah bukan mahasiswa S-1 lagi. Persyaratan, tema, hingga jatah kuota tiap negara untuk program ini berubah-ubah tiap tahun. Tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk tahun ini varian negaranya semakin beragam dari tahun lalu. Di tahun ini ada 16 mahasiswa dari 10 negara berbeda. Indonesia, Malaysia, Jepang, Serbia, Myanmar, Vietnam, Brunei Darrusalem, China dan Filipina. 

“Kelihatannya seru, tapi menuhin persyaratannya yang males”

Kelihatannya? 

Emang seru, gila.

Seru karena akhirnya saya mengalami momen-momen seperti yang ada di film-film hahahahahaha. Belajar budaya dari berbagai negara, nari dan nyanyi rame-rame, diskusi berbagai topik random sampai tengah malem, menjelajah berbagai pantai di Phuket, megang bintang laut dan penyu, sampai jalan-jalan di night market sambil makan jajanan pasar dan eskrim. 
 
Saya lakuin itu semua bareng orang-orang asing yang baru saya kenal. Orang-orang asing ini justru berubah menjadi keluarga baru yang pada akhirnya harus dipisahkan jarak ribuan mil setelah kembali ke negara masing-masing. Tapi seperti kebanyakan ending di dalam film-film, ini semua tetap berakhir happy ending. Sampai sekarang kami masih tetap suka diskusi hampir setiap malam melalui chatting, dari hanya sekedar melemparkan jokes, berkirim cerita dari negara masing-masing hingga berbagi kekhawatiran dan mimpi.

“Wherever you go becomes a part of you somehow” – Anita Desai

Sekarang saya paham makna kutipan tersebut.

Dimanapun saya berada hari ini, tanpa disadari saya telah membawa pulang bagian dari diri mereka—menjadi bagian yang melengkapi diri saya.

(Kamu bisa follow blog saya, share, atau sekedar memberikan komentar di kolom komentar. Dari hal-hal kecil tersebut yang membuat saya semangat berbagi pengalaman lainnya melalui tulisan)

Btw, selamat mencoba!

Comments

Popular posts from this blog

Long-Distance Friendship - Student Ambassadors for ASEAN Project 2017