Opinion #3 - Apakah Introvert, Extrovert atau Ambivert itu Penting?


Tulisan ini terinsipirasi dari email yang saya dapatkan.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan tim YOTCatalyst menyelenggarakan seminar YOT Campus Roadshow di STAN. Beberapa hari setelah seminar tersebut selesai diadakan, saya dan tim Catalyst mendapatkan email dari salah satu peserta yang mengikuti seminar tersebut. Dalam isi emailnya, ia berterimakasih kepada kami selaku panitia karena telah menyelenggarakan seminar yang telah membuatnya sadar bahwa introvert is not a weakness. 





Mendapatkan email tersebut tentu membuat kami bahagia karena ternyata dari apa yang kami lakukan (menyelenggarakan seminar), kami dapat menolong orang lain. Namun, di sisi lain saya juga menyadari bahwa kemungkinan masih terdapat banyak anak muda yang berpikir bahwa introvert is a weakness. Jadi, saya berharap tulisan ini bisa membantu kalian yang masih berpikir serupa.
 
Selama saya berorganisasi atau melakukan kegiatan volunteer, saya banyak menemui anak muda yang berlindung di balik tameng "Saya kan introvert". Melalui tameng tersebut, mereka merasa bahwa karakter introvert mereka adalah halangan bagi mereka untuk maju. Misalnya, ketika mereka sedang terlibat dalam suatu project sosial yang membutuhkan kesigapan dan inisiatif tinggi untuk menyelesaikannya. Namun yang mereka lakukan hanyalah diam dan menunggu orang lain menyelesaikannya. Contoh lain, ketika ada tugas kuliah yang harus diselesaikan secara berkelompok. Namun yang mereka lakukan hanyalah terima jadi tanpa berkontribusi karena takut memulai percakapan.

Lalu, benarkah itu semua karena introvert?

Ketika seminar YOT Campus Roadshow di STAN digelar, salah satu yang menjadi pembicara di seminar tersebut adalah mas Gunawan Susanto (CEO IBM dan mentor YOT). Pada seminar tersebut, mas Gunawan bercerita bahwa ia adalah seseorang yang introvert. For Your Information, ketika saya berinteraksi dengan mas Gunawan pun saat menjadi Young on Top Campus Ambassador, beliau cenderung mendengarkan dan sedikit berbicara. Semua orang yang berinteraksi dengannya akan dengan mudah mengenali jika beliau adalah seorang yang introvert. Tapi ia mampu menjadi Public Speaker dan CEO di umur yang relatif muda. 

Lalu, apa kunci keberhasilannya? 
Berlatih, berlatih dan berlatih. 
Mas Gunawan tidak pernah menganggap bahwa introvert adalah halangan baginya untuk maju. Justru ia melihatnya sebagai suatu kelebihan. Sebelum beliau dipercaya untuk memimpin IBM, beliau banyak belajar dan berlatih menjadi memimpin.

"I was not born like this (as a leader). But, i practice a lot." - Gunawan Susanto

Introvert, Extrovert ataupun Ambivert bukan lah suatu masalah. Justru dengan mengetahui apakah kamu introvert, ambivert maupun extrovert akan membantu kamu mengenali apa kelebihan dan kekurangan mu. Sehingga mempermudah kamu untuk meng-improve diri. Jadi, ketika kamu punya suatu goal, bukan introvert, extrovert ataupun ambivert yang menjadi persoalan, melainkan

"How bad you want it?" -  Gunawan Susanto

Seberapa besar kamu menginginkan mimpi mu? Seberapa besar kamu ingin grow up? Ketika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, kamu pasti akan berusaha sekeras mungkin apapun tantangannya. Jadi, ubah pola pikir kita. Karena penghalang antara kamu dan mimpi mu itu bukan karena kamu seorang introvert, melainkan diri kamu sendiri yang membatasi diri. So, introvert is NOT a weakness. Just break a limit!

Comments

Popular posts from this blog

Long-Distance Friendship - Student Ambassadors for ASEAN Project 2017

Tips Menjadi Student Ambassadors For ASEAN Project - Scholarship for Summer School Program