Opinion #5 - Hari Kemerdekaan Itu Sesat
Tulisan ini tepat saya tulis saat negara saya sedang merayakan hari kemerdekaannya yang ke 71. Bagi saya, hari kemerdekaan itu sesat. Puluhan tahun yang lalu para pahlawan bergerilya bolak balik masuk hutan untuk berperang. Mereka mencari jalan-jalan alternatif baru di hutan yang tidak diketahui penjajah. Mereka tersesat. Namun karena tersesat itulah mereka menemukan jalan baru untuk menyerang penjajah secara tiba-tiba dan membuat penjajah tidak punya waktu mempersiapkan diri menghadapi serangan yang tiba-tiba. Mereka pun menang.
Dahulu setiap bel pulang SMA saya berbunyi, saya dan dua orang sahabat saya langsung menuju parkiran, memakai helm, dan menaiki motor. Kami tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke kampung-kampung untuk mencari jalan yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Tujuan kami satu, agar kami tersesat.
Kegilaan saya berlanjut ketika memasuki awal-awal bangku kuliah. Sepulang kuliah saya tidak pernah langsung pulang ke rumah. Saya pergi keliling jakarta sendirian dan tanpa tujuan. Menyesatkan diri di tengah kemacetan ibukota.
Jujur saja, saya merasa hobi saya tidak normal. Kehabisan bensin di tengah jalan, dorong motor berkilo-kilo meter, ditilang polisi hingga hampir memasuki jalan tol. Tapi saya menyukai perasaan saat tersesat. Saya merasa tertantang saat harus memutar otak agar bisa kembali ke rumah.
Hobi tersesat saya beberapa tahun yang lalu masih saya anggap gila dan tidak wajar hingga beberapa minggu yang lalu seorang teman meminjami saya sebuah buku berjudul 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor. Secara ringkas, buku tersebut menceritakan bagaimana seorang dosen memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk pergi ke luar negeri seorang diri. Satu negara hanya boleh dikunjungi satu orang. Tujuannya agar tersesat.
Awalnya dosen tersebut mendapat banyak kritikan karena memberi tugas yang tidak sesuai dengan mata kuliah yang diajarkan. Mahasiswa dilarang memakai jasa calo dan travel serta dilarang menerima bantuan keluarga. Waktu mereka hanya 1,5 bulan untuk mempersiapkan tugas tersebut. Tugas yang tidak masuk akal tapi ternyata dari tugas inilah para rajawali Indonesia lahir.
"Ada dua situasi kebatinan yang akan mereka hadapi: terasing sekaligus tertantang. Dalam keterasingan, mereka hanya berbicara dengan diri sendiri, bukan bergantung kepada orang lain. Di tengah kesibukan, mereka sudah biasa banyak berdialog dengan orang lain dan media sosial. Tetapi, dalam keterasingan, bagus bagi anak muda untuk membangun diri. Dialog diri ini akan menimbulkan self awareness untuk membentuk karakter yang kuat. Dengan pergi seorang diri, mereka dipaksa menghadapi tantangan"
- Kutipan paragraf dari Prof. Rhenald Kasali dalam Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor.
Sekarang saya jadi berpikir ulang tentang kegilaan saya yang hobi tersesat. Apa salahnya jika tersesat? Tanpa tersesat, kita tidak akan pernah tau jalan-jalan baru. Kenapa tidak saya lanjutkan saja kegilaan tersebut ke tingkat yang lebih menantang, pergi ke luar negeri sendirian.
Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor membuat saya memasukkan kalimat baru dalam list tujuan hidup saya, pergi ke luar negeri dan tersesat di negeri orang.
Saya setuju dengan opini anda. Teruslah tetap ngeblog Ka Ayu!!
ReplyDeletewkwk terimakasih firda sudah membaca!
Delete