Parenting Lessons in the Train, a Discovery Story
Pergi keluar kota secara rutin selama lebih dari setahun rupanya ninggalin banyak banget pelajaran. Pekerjaan yang mengharuskan traveling ke kota-kota yang enggak memiliki bandara membuat gue harus bersahabat dengan kereta api maupun alat transportasi darat lainnya.
Mulai
dari nunggu kereta yang terlambat datang selama dua jam, negosiasi
panjang dengan penjaga loket karena lupa bawa KTP, sampai lari-lari
ngejar kereta yang udah mulai gerak perlahan, dan membuat gue harus melempar koper ke dalam gerbong lalu nekat melompat masuk. Di saat itulah gue jadi paham gimana rasanya jadi Tris, salah satu golongan Dauntless di film Divergent yang dengan berani melompat masuk ke dalam gerbong kereta yang sedang berjalan.
Duduk di dalam kereta juga enggak kalah serunya. Jam kerja yang enggak menentu membuat gue harus
selalu memesan tiket kereta secara mendadak, dan seringnya yang tersisa
adalah tiket kelas ekonomi, tapi justru di sinilah rangkaian seri
pelajaran kehidupan di mulai.
Seorang ibu duduk di samping gue dengan baju yang dipenuhi keringat sambil memangku tas punggung besar bersama anak perempuannya yang kalau gue prediksi umurnya sekitar 7 tahun.
"Ibu,
teman ku naik pesawat sama ayahnya. Dia bilang kalau kita naik pesawat,
kita bisa lihat awan! Cara naik pesawat itu bagaimana, bu?" Tanya sang
anak.
Terlihat jelas sekali dari wajah sang ibu kalau ia sedang kelelahan, tetapi respon sang ibu membuat gue terkejut.
"Oh
iya? Wah teman mu pasti senang sekali ya bisa melihat awan, nak.
Pesawat itu ada di bandara. Jadi kalau kita mau naik pesawat, kita harus
ke bandara," Jawab sang ibu sambil tersenyum.
Seketika hati gue
menghangat mendengar percakapan mereka. Selama dua jam perjalanan, sang
anak terus bertanya berbagai pertanyaan, dan dijawab sang ibu dengan
semangat. Terkadang sang ibu yang balik bertanya, dan bercerita sambil
sesekali bercanda. Sang ibu seakan gak peduli kalau dia lagi lelah.
Pemandangan langka yang jarang banget gue temui di kereta. Dari puluhan kali duduk di kelas ekonomi atau bahkan di kelas eksekutif, kebanyakan ibu yang gue temui akan menyodorkan smartphone
atau makanan ke anaknya yang banyak bertanya agar sang anak diam.
Seakan-akan rasa penasaran sang anak adalah sesuatu yang perlu dihilangkan.
Menjadi orangtua sepertinya emang bukan perkara yang mudah. Maka ketika gue ketemu ibu dan anaknya yang asik ngobrolin pesawat, bikin gue jadi kagum seketika sama sang ibu. Naik kereta secara rutin juga secara enggak langsung ngajarin gue betapa pentingnya ilmu parenting buat siapapun yang akan jadi orangtua—terlepas dari apapun latar belakang pendidikannya—belajar parenting adalah hal wajib yang enggak bisa ditawar.

Comments
Post a Comment