Gombalan Maut, a Discovery Story
"Apa perbedaan rumah sama Ka Ayu?", tanya Rosyid.
"Apa?"
"Kalau rumah melindungi keluarga dari hujan, kalau Ka Ayu melindungi hati ku", gombalnya malu-malu disertai sorakan dari seisi kelas.
Pelajaran menggombal mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang paling mereka ingat dari kami para pengajar kelas 6 Sekolah Dasar Tejang Sebesi. Saya dan Talitha—partner mengajar saya selama seminggu—sepakat menjadikan sesi pelajaran Bahasa Indonesia sebagai ajang kreativitas anak-anak untuk menggombal.
"Apa?"
"Kalau rumah melindungi keluarga dari hujan, kalau Ka Ayu melindungi hati ku", gombalnya malu-malu disertai sorakan dari seisi kelas.
Pelajaran menggombal mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang paling mereka ingat dari kami para pengajar kelas 6 Sekolah Dasar Tejang Sebesi. Saya dan Talitha—partner mengajar saya selama seminggu—sepakat menjadikan sesi pelajaran Bahasa Indonesia sebagai ajang kreativitas anak-anak untuk menggombal.
Kok menggombal? Mereka kan masih kecil?
Saya percaya bahwa kreativitas anak tidak bisa hanya diasah melalui teori di buku, melainkan dengan praktek langsung. Memberikan gombalan di depan kelas membutuhkan keberanian, dan kreativitas merangkai kata. Sehingga, kami tantang anak-anak—siapapun yang berani—maju ke depan kelas dan memberikan gombalan kepada kami para pengajar. Selama sesi menggombal, mereka saling berdiskusi, menyemangati teman-temannya yang belum berani untuk maju ke depan kelas, dan saling membantu merangkaikan kata. Rupanya tidak hanya keberanian, dan kreativitas yang mereka dapat tapi juga kerjasama tim.
Memasuki hari ketiga mengajar, kami mengadakan sesi cerita seram. Biasanya storytelling yang 'normal' akan berisi dongeng-dongeng khas pangeran dan putri tapi kali ini berbeda. Saya memutuskan untuk menjadikan pengalaman pribadi beberapa tahun lalu, yang cukup membuat bulu kuduk merinding, sebagai bahan bercerita. Yap, sesi mengajar di hari ketiga diisi dengan cerita horor! Cukup anti mainstream, kan? hahaha. Sesi ini juga jadi sesi yang paling ampuh bikin seisi kelas auto duduk manis di tempatnya sambil memperlihatkan muka menyimak paling serius. Lebih serius dibandingkan saat sesi pelajaran matematika.
Kalau sore tiba, kami para pengajar pergi ke pantai bersama seluruh seisi sekolah. Dari kelas satu hingga enam, membuat prakarya dengan bahan-bahan yang ada di pantai. Beberapa anak-anak lainnya ada yang berenang, atau main kano. Ada yang berakhir menangis sesunggukan karena enggak sengaja menginjak bulu babi. Kata warga, lukanya harus segera disiram air seni agar racunnya segera terurai. Luar biasa, ya semua ciptaan Tuhan? bahkan air seni—cairan sisa dari tubuh manusia yang biasanya dibuang—bisa berguna untuk menguraikan racun dari bulu babi karena mengandung asam amoniak.
Selama seminggu di Pulau Sebesi, saya jadi belajar banyak hal sekaligus jadi punya banyak kenangan yang menghangatkan hati. Saya datang untuk mengajar, tapi rupanya justru saya yang pada akhirnya belajar. Terimakasih, Pulau Sebesi!
Comments
Post a Comment